BISIKAN DI TENGAH KEGELAPAN

''bukan kebiasaan ini kepribadian, terpatri didalam pikiran, hempaskan sekali lagi dan lagi''

Hampa dalam kalbu, menatap langit yang sama, terpisah oleh lampu yang gelap, ini kali pertama tubuh ini untuk berontak, terlelap sendiri segalanya ikut berubah ''ini sipatku'' akan terus menjadi kenyataan, masih mengenang masa kelam, sipatku ini yang membawaku selalu tersenyum lepas, tinggalkan buramnya kain ini, membuatku muak dan merasa kembali.
  Dosa dari tubuh ini aku bawa hingga kelak tak bisa memikulnya lagi, fikirku ini hanya sebatas candaan dari pentas dunia yang di bangun di atas norma-norma kewibawaan palsu, nyatanya ini lebih buruk, sandiwara srigala dengan rubah untuk memperluas sipat buruk. Lahaplah tubuh ini dengan api neraka, jika waktunya masuk surga di tunda untuk kemurnian hati, antarkan kedua mata ini menghadap air yang luas, cahaya sedikitpun masuk.

Laura namanya, berkenalan saat kepindahan sekolahnya ke sekolah lain saat memasuki kelas 2 SMA, rasa perih hati ini tak terbendung ketika mendengar dia telah  tiada, kecelakaan 2 tahun setelah kepindahannya merenggut segalanya, sepucuk surat telah tiba memberikan undangan dari keluarganya, saya memutuskan untuk datang. 
Saya ketuk pintunya, kemudian ibu laura nampak menyambut saya, mempersilahkan masuk, kemudian saya masuk kerumahnya, saya masih berdiri tapi ada apa ini dalam pikiran saya, nampak seluruhnya memperhatikan saya dengan sedih, tiba-tiba ayahnya Benjamin memeluk saya, kemudian berbisik dengan nada sedih di telinga saya...
dia berkata "saya pikir kamu adalah salah satu orang terbaiknya, terimakasih"
kemudian ibunya Emeli memeluk saya sambil menangis, setelah pelukan keduanya terlepas, Emeli ibunya laura menyerahkan buku harian Laura dan setumpuk surat-surat yang di tulis oleh laura, saya menerimanya.
Saya membuka terlebih dahulu buku harian laura, halaman pertama tertulis "ini untuk siangku, matahari pertamaku", saya meminta izin,
"bolehkah saya melanjutkan membacanya" saya lihat kedua orang tua laura, ayah laura "silahkan kamu lanjutkan" sambil tangannya mengarahkan saya untuk duduk.


"INI UNTUK SIANGKU, MATAHARI PERTAMAKU"

  Kutipan untuk seseoarang, pertama yang aku kenal di luar keluargaku adalah dirimu, sepanjang hari kita selalu menghabiskan waktu berdua, meski terkadang lebih banyak dengan teman aku, sorry aku sedikit bergurau, jujur terkadang saat kita berdua itu lebih menyenangkan loh... selalu aja ada topik yang kita bahas, itu membuat aku senang, kita sudah beranjak dewasa, apa kamu masih ingat saat masih kecil dulu, waktu SD mungkin?, SMP mungkin?, jujur waktu SMA aku tidak mau mengingatnya, karena itu membuat aku sangat sedih. oh iya.... aku termasuk orang pintar loh... di kelasku, kamu ingat kan? buktinya peringkat pertama selalu aku raih, aku juga terkadang merasa heran dengan pola pikirku ketika saat belajar semuanya terasa mudah...hahahaha agak sombong neh, habisnya kamu tidak pernah punya peringkat baik di kelasnya... wkwkkw
matahari itu datang setiap pagi dengan sapaan, aku mulai menulisnya saat dia matahariku itu mulai jauh karena aku menjauhinya, ingin sekali rasanya aku berbincang-bincang denganmu, bercanda dan tertawa berdua, hanya kita berdua saja, kenapa seolah ada jarak di antara kita?

ini topiku untuk kita bicarakan... 
Meninggalkan apa yang begitu berharga dalam kehidupan ini, begitu terasa amat sangat susah untuk dilakukan, tidak pasti jalanku saat itu, ada apa dengan kenyataan ini, ini egois, kenapa tidak berharga suatu nilai waktu yang aku punya ini, tidak akan aku temui lagi, sama sekali. 
Bagaimana pendapatmu? apa aku salah berbuat seperti itu?

jika aku salah, lantas apa yang harus aku perbuat, aku pergi sesaat itu, terpisah dengan pola pikir yang tidak sama, pikiranku dengan sinar terangnya matahari itu adalah senyumku, namun tak berguna lagi, tidak ada yang nyata semuanya ketika semuanya gelap, aku sendirian, dan apa yang akan aku lakukan seandainya waktu bisa aku putar kembali, ini untuk siangku, matahari pertamaku.

Hanya terdiam, tak terasa air mata menetes, "Maafkan saya Laura", hingga seketika senyuman suara Laura muncul di kepala saya sehingga memutar kembali kejadian masa lalu... 
Saya tau Laura adalah teman wanita pertama saya dia adalah sosok periang, Laura termasuk sosok wanita cantik dengan teman sebayanya, saya ingat waktu itu teman saya Dodi naksir sama Laura, Dodi berusa keras untuk mendapatkan perhatian Laura, maklum waktu itu pertama masuk SMP, selalu ingin unjuk kebolehan, Dodi meminta saya... 

NEX DI EPISODE SELANJUTNYA YA................. MINGGU DEPAN YA.  

Komentar